PUBLIKSATU, KENDARI – Wa Ode Sunartin, seorang guru honorer yang mengabdi selama 16 tahun diberhentikan sepihak oleh kepala sekolah. Dia diberhentikan berdasarkan petisi guru-guru dan datanya diduga dimanipulasi operator sekolah di SDN 92 Kendari.

Sunartin tidak terima dipindahkan di SDN 80 Kendari. Alasannya antara lain karena jarak rumah dan sekolah sangat jauh dibandingkan SDN 92 Kendari. Dia merasa jadi korban di SDN 92 Kendari karena datanya salah. Padahal di antara delapan guru honorer di sekolahnya, dirinya paling lama mengabdi.

Dia diberhentikan 10 Januari 2023 berdasarkan petisi 30 guru, 2 cleaning servis, dan 1 Satpam. Namun secara administrasi ia belum menerima surat pemberhentian. Dia hanya diberhentikan secara lisan yang dihadiri Sekretaris Diknas, pengawas lapangan, perwakilan BKPSDM Kota Kendari. “Mulai saat itu anak saya juga sudah tidak masuk sekolah,” katanya.

“Dia takut ada beban psikologis dan fisik dari anaknya. Apalagi, maraknya penculikan anak di Kota Kendari sekarang saya mau ke mana pun anakku pergi saya harus berada bersamanya,” ungkap Sunartin sambil menangis kepada media ini, Selasa (25/01/2023).

Sunartin menambahkan, anaknya tidak mau lagi sekolah di SDN itu kalau tidak ada dia. “Sampai sejauh ini saya belum memikirkan sekolahnya,” katanya.

Merenung dari kejadian itu Sunartin merasa jadi korban. Mulai datanya yang dimanipulasi seperti ijazah sementara dia sudah 16 tahun mengabdi.

Menurut Sunartin permasalahan yang dialaminya, bermula saat pendataan P3K pada Agustus 2022 lalu. Dia mengaku telah menyetorkan semua data diri yang dibutuhkan ke pihak operator SDN 92 Kendari, mulai dari ijazah, tanggal lahir hingga SK pengabdian sejak 2006, dan berkas-berkas lainnya.

Saat Sunartin mengecek data dirinya ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Kendari, namanya tidak ditemukan operator BKD. Setelah diperiksa, ternyata seluruh datanya telah berubah.

Ia mengungkapkan, ijazah yang harusnya Diploma II guru kelas berubah menjadi ijazah SMP, sedangkan SK pengabdian yang harusnya tahun 2006 juga berubah menjadi tahun 2021, belum lagi tanggal lahir yang semestinya 24 Mei 1985 berubah menjadi 11 Juli 1985.

Sunartin mengungkapan, usulan guru honorer pada 24 Januari 22 sampai saat terbitnya SK 18 Maret 2022, sebanyak delapan orang. Masing-masing,Nurdia,Wa Ode Sunartin, Aprilita Maliani, Munaisa, Indrawati, Ida Royani, Marthen Petrus Manggau dan Sukmawati.

Mengutip pernyataan Kepala BKPSDM Kota Kendari H. Sudirham,S.Pd, M.Ed pada RDP Senin (16/01/2023) tentang PP No 49 tahun 2018 pasal 96 bahwa PPK dilarang mengangkat tenaga non ASN atau honorer/non P3K untuk mengisi jabatan ASN. Tapi faktanya pada Februari 2022 kepala sekolah SDN 92 Kendari mengangkat tenaga honorer atas nama Sukmawati,SE sebagai tenaga administrasi, namun tapi di Pengusulan SK Walikota tahun 2022 sebagai guru.

H. Sudirham mengungkapkan surat Men-PAN RB yang terbaru 2022 untuk melakukan penataan pemetaan tenaga non-ASN sehingga terbitnya surat edaran walikota No 800/4850/2022 diberikan sanksi kepada PPK yang mengangkat non-ASN.

“Saya bisa mendengar ungkapan kepala BKPSDM tersebut kok bisa keluarga kepala sekolah atas nama Sukamawati langsung diangkat menjadi honorer di sekolah itu masuk 2022 dan juga memiliki SK 18 Maret 2022,″ ungkap Sunartin saat hadir di DPRD untuk pembahasan RDP Senin (16/01/2023).

Bukan hanya itu, diduga ponakan kepala sekolah atas nama Novi yang tadinya kerja di sekolah SDN 92 Kendari masuk 2018 menjadi operator dana BOS sekolah, langsung lulus P3K tahun 2019 menggantikan posisi Sunartin.

“Ini yang saya tangkap dari pak Sudirman peraturan pemerintah No 49 tahun 2018 dilarang mengangkat pegawai non ASN atau non-PPPK pada saat di ruang DPRD pembahasan RDP pada tanggal 16 Januari 2023,” beber Sunartin.

Pada saat media ini berkunjung di SDN 92 Kendari untuk diminta konfirmasi kepada sekolah tetapi pihak sekolah tidak mau komentar. “Untuk saat ini kami tidak mau menerima wartawan karena masalah itu sudah selesai. Saat ini kami no komen biar kami mengajar dengan tenang,” ucap salah satu ibu guru di sekolah tersebut. (ARA)