Publiksatu– Tendangan bebas dari jarak 30 meter itu terus melekat di ingatan Singgih Pitono. Sebab, lawan yang dibobol Persebaya Surabaya.

Dan, gol tersebut juga jadi gol pertama yang menandai rivalitas Arema FC dan Persebaya.

Sebelumnya, kedua tim besar asal Jawa Timur ini bermain di kompetisi berbeda. Arema di Galatama, Persebaya di Perserikatan. Piala Utama, ajang di mana gol Singgih tadi tercipta, merupakan turnamen yang mempertemukan wakil dua kompetisi tersebut. Sekaligus salah satu cikal bakal lahirnya Liga Indonesia, ajang yang menggabungkan Galatama yang semiprofesional dan Perserikatan yang amatir.

Gol Singgih dalam laga yang dimenangi Arema 2-1 di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, itu diawali dari tendangan bebas. ’’Saya masih ingat. Posisi tendangan bebas itu ada di sisi kiri pertahanan Persebaya. Gawangnya itu di sisi selatan. Setelah gol, saya langsung selebrasi,’’ kata Singgih yang lama membela Arema saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Makassar kala itu memang jadi tuan rumah grup A Piala Utama 1992. ’’Rivalitas sudah ada, tekanan juga besar. Tapi, dulu Bonek dan Aremania masih bisa satu tribun,” tutur Singgih yang kini menjadi asisten pelatih Arema.

Di laga itu pula, Aji Santoso turut mengawal lini pertahanan Arema. Tapi, malam ini, di derbi Jatim mempertemukan lagi kedua tim di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Aji datang sebagai pelatih Persebaya.

’’Tidak ada masalah. Saya dan coach Aji itu sudah seperti saudara kandung,” ucap Singgih.

Selain Singgih, yang tercatat dalam sejarah terkait duel Arema versus Persebaya adalah David da Silva. Saat masih berkostum Persebaya, striker asal Brasil itu adalah top scorer derbi Jatim selama era Liga 1.

Dari empat penampilannya melawan Arema, pemain yang kini membela Persib Bandung itu sudah mengemas empat gol. Belum ada yang melampaui catatan tersebut di era Liga 1. (*)