PUBLIKSATU – Ketidakharmonisan hubungan Tiongkok dan Amerika Serikat meruncing sejak era kepemimpinan Presiden Donald Trump. Perang dagang, teknologi, diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19, membuat Tiongkok-AS tak akur. Pengamat menyebut situasi sekarang semakin memburuk pasca kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

Dikutip dari jawapos.com, Tiongkok sebelumnya berulang kali memperingatkan terhadap kunjungan Pelosi. Karena tak digubris, Tiongkok menanggapi dengan kecaman keras dan latihan menembak berhari-hari di sekitar Taiwan, termasuk puluhan serangan di atas garis tengah di Selat Taiwan. Itu karena batas de facto yang sampai sekarang dihormati dan Taiwan diklaim sebagai bagian dari Tiongkok.

AS sendiri bersikeras telah berjanji untuk melanjutkan transit Selat Taiwan dan melakukan operasi kebebasan navigasi di kawasan itu. AS memperpanjang operasi kapal induk USS Ronald Reagan.

Situasi ini membuat Tiongkok-AS semakin terjerumus ke dalam hubungan titik terendah. Padahal saat era Trump, kebijakan AS di bawah kepemimpinannya sudah membuat Tiongkok marah termasuk sejumlah tarif impor Tiongkok dan sanksi terhadap pejabat Tiongkok atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang dan Hongkong.

“Ketika kami mengatakan hubungan Tiongkok-AS telah mencapai titik terendah selama pemerintahan Trump, kami benar-benar salah membacanya,” kata seorang spesialis hubungan AS-Tiongkok di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok (CASS) Lu Xiang.

Ketegangan hubungan terjadi atas perjalanan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan mencapai titik didih. Menurut Bloomberg pekan lalu, Gedung Putih telah berusaha untuk menunda Undang-Undang Kebijakan Taiwan bipartisan, yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan dengan pulau itu, dalam upaya untuk mencegah eskalasi krisis dengan Tiongkok.

Tiongkok sendiri masih marah atas kunjungan Pelosi pekan lalu, yang dilihatnya sebagai upaya lain oleh Washington untuk mengingkari komitmennya terhadap kebijakan satu Tiongkok.

“Tiongkok hampir pasti akan bereaksi lebih keras dibanding saat ini, karena hal itu akan dilihat sebagai tantangan langsung terhadap fondasi utama pembentukan hubungan AS-Tiongkok,” tutupnya. (*)