Catatan: Irwansyah Amunu

SABTU (22/5) lalu, saya antar anak balik ke Ponpesnya di Baron, Ngajuk, Jatim. Walau harga tiket selangit, terpaksa menggunakan moda transportasi udara kesana.

Apalagi setelah melihat kenyataan, tiket kapal Pelni menuju Surabaya jadwal Jumat (20/5) Baubau-Surabaya, sewaktu saya tanya ke teman, habis. Ia pun hanya membeli tiket Baubau-Makassar.

Memang banyak penumpang yang memilih naik kapal dibanding pesawat walaupun harus berjubel. Soalnya harga tiket Baubau-Surabaya masih di atas Rp 2 jutaan. Dulu, masih bisa di bawah Rp 2 juta.

Hingga kini masih di atas Rp 2 juta. Padahal lebaran sudah lama berlalu.

Mulanya saya pikir karena kenaikan harga BBM jenis Avtur. Untuk menjawab misteri tersebut, saya tanya kepada salah seorang penumpang rute Ambon-Surabaya, berapa harga tiketnya. Ia mengaku berfariasi antara Rp 1,2 hingga Rp 1,6 juta. Tidak terjadi perubahan harga sebelum atau setelah kenaikan harga Avtur.

Mendengar itu, mata saya terbelalak. Apakah karena Baubau hanya dilayani satu maskapai? Entahlah.

Semoga kenyataan ini diketahui pihak Pemkot. Harapannya, bukan hanya satu maskapai yang beroperasi sehingga harga bisa turun.

Nah, kembali ke perjalanan saya ke Surabaya. Sesuai jadwal, saya terbang dari Baubau pukul 06.00 Wita ke Makassar. Walau agak molor beberapa menit, namun penerbangan lancar.

Jadwal Makassar-Baubau pun tidak terlalu jauh bergeser. Namun saat pesawat kami hendak mendarat di Bandara Juanda, pilot mengumumkan belum bisa mendaratkan pesawat karena kerusakan di bandara. Dikatakan, pihaknya menunggu sekitar 15 menit hingga diizinkan mendarat.

Alhasil pesawat kami mutar-mutar di atas bandara. Saya lirik jam tangan, waktu sudah lewat 15 menit. Bahkan nyaris setengah jam.

Dalam hati saya membatin, alhamdulillah saat transit di Bandara Hasanuddin, perut sempat diganjal dengan bekal yang dibuat istri dari Baubau. Kalau tidak, pasti keroncongan. Syukurnya lagi, anak saya sempat beli roti.

Tak lama kemudian, pilot mengumumkan, karena alasan keamanan, diputuskan pesawat tidak jadi mendarat di Juanda. Dikatakan, saat ini sebanyak 10 pesawat yang gagal mendarat. Alternatifnya, kami menuju Bandara Ngurah Rai, Bali.

Saya lantas bertanya kepada seorang penumpang disisi kiri, apakah pengalaman seperti ini pernah dirasakan. Ia mengatakan tidak. Baru pertama kali.

Anak saya sempat melongok ke luar kaca jendela pesawat. Ia melihat Garuda, dan Citilink juga mutar-mutar. Bahkan gambarnya sempat dipotret.

Situasi ini membuat saya melafalkan salawat. Saya juga meminta dua anak saya untuk melakukan hal serupa.

Salawat adalah obat, pelancar yang tersumbat, pelapang yang sempit, permudah yang sulit.

Setelah melalui penerbangan sekitar 50 menit, pesawat kami mendarat di Bandara Ngurah Rai. Lantas dilakukan pengisian BBM. Semua penumpang tetap di pasawat.

Pilot mengumumkan penerbangan dilakukan bila otoritas bandara di Juanda membolehkan. Sekitar satu jam setengah kami menunggu. Lantas pilot menerbangkan kembali kapsul besi menuju Surabaya.

Kami berhasil mendarat di Juanda sekitar pukul 13.30 WIB. Sesuai jadwal mestinya kami tiba nyaris pukul 10.00 WIB. Molor tiga jam setengah.

Mestinya Baubau-Makassar-Surabaya. Namun berubah menjadi Baubau-Makassar-Bali-Surabaya. Mengalami deviasi ke Bali. Itulah horor Bali. Alhamdulillah selesai.

Yang belum selesai adalah horor harga tiket pesawat. Akankah turun kembali?(Follow Instagram: @IrwansyahAmunuNews)