Catatan: Irwansyah Amunu

HARI ini, Sabtu (21/5) Universitas Muslim (UMU) Buton genap berusia tiga tahun. Walau tiga tahun, institusi yang dipimpin Dr H Sudjiton MM ini sudah menampakkan tajinya.

Hal tersebut terungkap dalam podcast yang saya lakukan beberapa hari lalu dengannya. Tidak main-main, Sudjiton mengatakan UMU Nomor Satu di Sultra.

Bukan tanpa alasan mantan Sekab Wakatobi ini menyebut demikian. Beberapa pencapaian UMU antara lain, tahun ini, belasan dosennya yang melakukan penelitian mendapatkan beasiswa dari Dikti. Sebelumnya angkanya pun puluhan.

“Dibidang penelitian dosen terhitung dengan tahun lalu sudah 21 topik penelitian yang lolos ditingkat pusat (Dikti). Tahun ini 10 topik dan satu PKM. Ini tergolong yang  terbanyak pertama untuk seluruh perguruan tinggi se-Sultra dan ketiga untuk wilayah se-Kopertis IX (Sultra, Sulsel, Sulbar),” ujar Sudjiton.

Beasiswa KIP untuk mahasiswa jangan tanya. Jumlahnya capai 400. Angka yang fantastis untuk perguruan tinggi yang baru seumur jagung.

Mahasiswanya pun sudah ada yang berprestasi hingga level nasional. Antara lain, Hartini (juara 1 lomba puisi tingkat nasional tahun 2020), Hartina Rumalefin (juara 2 lomba olimpiade biologi tingkat Nasional tahun 2022), dan juara 1 lomba desain poster tingkat nasional topik melestarikan biodiversitas lokal dengan aksi konservasi.

Untuk diketahui, tema utama Dies Natalis UMU III yakni Jelajah UMU Buton Merawat Jagad untuk Membangun Peradaban Negeri. Menggambarkan domain UMU tidak hanya sibuk dengan urusan lokal, tapi juga punya kiprah global. 

Sejalan dengan visi UMU Buton: Menciptakan SDM yang berkarakter unggul yang berahlakul karimah berbasis entrepreneur. Sudjiton menjamin, alumni UMU akan memiliki daya saing dan adaptif dengan kemajuan zaman.

Djiton -sapaan Sudjiton- menerangkan UMU mempunyai struktur yang ramping, namun responsif untuk menjawab tatangan dinamika perkembangan dunia perguruan tinggi, miskin struktur kaya fungsi. Berikutnya, budaya organisasi dibangun untuk menanamkan nilai-nilai humanis, dialogis, moderat, adil, bottom-up. Berikutnya, komunikasi organisasi mengedepankan kesantunan dan berorientasi hasil.

Tak kalah pentingnya, membangun jaringan kemitraan misalnya dengan Pemda, hasil-hasil penelitian kampus dijadikan best practice atau model, sebagai inti masyarakat. Menjadi plasma lalu dikoneksikan dengan inti tadi. Perguruan tinggi dengan dosen-dosennya dan mahasiswa smester akhir menjadi pendamping, sedangkan Pemda melalui SKPD terkait memberi support dengan program yang cocok. Dilakukan secara multiyear seraya mengevaluasi kekurangan misalnya tiga tahun.

Pria berkacamata ini juga menyinggung soal kreativitas dan inovasi pelaksanaan tridarma perguruan tinggi (pengajaran: dosen, kurikulum, mahasiswa). Penelitian dengan melibatkan mahasiswa dan hasilnya dapat menjadi bahan ajar di ruang kelas. Pengabdian kepada masyarakat dengan keunggulan lokal sesuai potensi para peneliti disesuaikan tematiknya dengan potensi wilayah.

Ia juga menjelaskan, UMU punya Indonesia Buton Institut (IBI). Institusi ini sebagai organisasi yang dibentuk untuk mengintrodusir kedalam Tridharma perguruan tinggi, tuntutan-tuntutan baru eksternal, meliputi empat divisi. Pertama, Divisi Entrepreneur, kegiatannya entrepreneur wanted, stadium general, praktek atau pengamatan langsung ditempat kerja praktisi.

Kedua, Divisi Digital Teknologi, memperkenalkan para mahasiswa penggunaan tegnologi digital, misalnya dalam berkomunikasi bisnis. Ketiga, Divisi Bahasa Inggris, sebagai bahasa komunikasi internasional. Terakhir, Divisi Penanaman nilai-nilai Islam Aswaja: Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), Tasamuh (toleransi) dan I’tidal (adil atau tegaklurus).

Saat ini UMU, lanjut Djiton menjadikan Kamis bebas kuliah. Kuliah ditiadakan Kamis, dipadatkan dihari lain, dikhususkan untuk kegiatan IBI yaitu “Entrepreneur Wanted” menghadirkan para praktisi bisnis untuk bercerita tentang sukses story-nya.

“Pada saatnya peserta melihat langsung dilokasi kerjanya, diskusi pemanfaatan tegnologi digital, nilai-nilai Aslam Aswaja. Singkatnya untuk hari diskusi umum dengan melibatkan mahasiswa semester ahir dan dosen yang terkait dengan topik pembahasan.

Dimaksudkan pula untuk berinovasi pembelajaran sebagaimana semangat Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar,” ulas Sudjiton.

Soal akreditasi, Djiton mengatakan jangan ragu, semua program studi di UMU telah terakreditasi. Terkait akreditasi institusi belum dilakukan karena UMU belum punya alumni. Setelah menelurkan alumni, UMU akan kantongi akreditasi institusi.

“Jadi, jangan ragu kuliah di UMU Buton,” kuncinya.(Follow Instagram: @IrwansyahAmunuNews)