PUBLIKSATU, BAUBAU – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kendari membebaskan tiga terdakwa kasus proyek pasar Palabusa Kecamatan Lealea Kota Baubau yakni Radjlun, Farida Amin, dan Adisti Ahita. Vonis bebas tersebut disapada sidang, Selasa (26/4).

“Iya, (Radjlun, Farida, dan Adisti) divonis bebas dalam sidang (Selasa) 26 April 2022 tadi. Saya selaku penasehat hukum ketiga terdakwa menyampaikan apresiasi terhadap putusan majelis hakim,” kata kuasa hukum para terdakwa kasus dugaan korupsi proyek pasar Palabusa, Abdul Rahman dikonfimasi via telepon seluler.

Menurut dia, sudah sepantasnya tiga kliennya diputus bebas. Sebab, memang fakta hukumnya memang tidak ada indikasi korupsi, kerugian negara, dan penyalahgunaan wewenang dalam proyek pasar Palabusa sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Dakwaan Jaksa bahwa proyek itu total los tidak terbukti. Fakta di persidangan dan fakta di lapangan menunjukkan bangunan pasar Palabusa itu berdiri kokoh 100 persen dan sudah menjadi aset Pemkot (Pemerintah Kota) Baubau,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, pihaknya menganggap Jaksa juga salah menerapkan Undang-Undang (UU) Jasa Konstruksi lama yang menyatakan proyek tersebut kegagalan konstruksi. Sebab, regulasi terbaru yakni UU Nomor 2/2017 tentang Jasa Konstruksi itu tidak dikenal lagi istilah kegagalan konstruksi.

“Ketiga, Jaksa salah menggunakan (saksi) ahli dari Manado, itu bukan ahli konstruksi, tapi ahli sumber daya mineral. Itu saksi ahli yang dihadirkan keliru,” ujar Rahman.

Lebih jauh, jelas dia, pada dasarnya terdakwa Farida dan Adisti tidak memiliki hubungan dengan kontrak proyek pasar tersebut. Sebab, yang berkontrak dalam proyek itu adalah PT Togo. Kedua terdakwa hanya membantu atas permintaan direktur PT Togo. Direktur PT Togo yang waktu sedang sakit meminta Farida dan Adisti untuk membantu seperti bayar material dan awasi tukang.

“Sementara, Radjlun sebagai PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) tidak menyalahgunakan wewenang karena pekerjaan itu sudah diserahterimakan, diresmikan dan sempat digunakan selama tiga bulan pasca selesai pekerjaan. Ada bukti foto dokumentasi peresmian oleh Wali Kota dan pencabutan lot pasar Palabusa itu yang kita perlihatkan di pengadilan,” ujarnya.

Rahman mengakui, JPU masih menyatakan masih pikir-pikir atas putusan bebas terhadap ketiga kliennya. “Kalau Jaksa melakukan upaya hukum Kasasi, kami sangat siap menghadapinya dengan kontra Kasasi,” katanya.

Sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Baubau begitu percaya diri menetapkan Radjlun, Farida, dan Adisti sebagai tersangka korupsi proyek pasar Palabusa tahun 2017. Bahkan, Kejari menyebut proyek tersebut telah menyebabkan total los.

“Berdasarkan hasil audit Badan Pengawas Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), kerugian negara atas proyek itu berjumlah Rp 2.527.444.000. Ketiga tersangka dijerat pasal 2 ayat (1), pasal 3, serta 15 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor,” kata Kepala Kejari Baubau, Jaya Putra saat menggelar konferensi pers, Selasa (31/8/2021) lalu.

Sebagaimana diketahui, Radjlun, Farida, dan Adisti ditetapkan dan langsung ditahan sebagai tersangka proyek pasar Palabusa pada Selasa 31 September 2021 lalu. Proyek itu bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Baubau tahun 2017 sebesar Rp 2.865.720.000.(exa)