Oleh : Sri Yuniati

SAAT ini tanaman porang terdengar sangat viral di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sejak diketahui memiliki banyak khasiat karena kandungan glukomannan mencapai 45% dalam tanaman jenis umbi-umbian ini, hingga akhirnya banyak dicari untuk dibudidayakan. Porang kini menjadi tanaman unggulan ekspor pertanian Indonesia. Padahal sebelumnya tanaman ini tidak dilirik karena dapat menyebabkan gatal-gatal.

Porang merupakan komoditas baru yang bisa diolah menjadi beras, mie shirataki, konyaku, dan campuran produk kue. Selain itu menjadi bahan baku industri pembuatan lem dan bahan perekat hingga produk kosmetik dan obat yaitu spons conjac dan cangkang kapsul. Sehingga nilai tambah bukan hanya bagi perusahaan pengolah porang tetapi juga bagi para petani karena harus selalu bisa menyiapkan bahan bakunya.

Jika menelisik data budi daya porang oleh Amiruddin Pohan selaku Direktur Akabi (Aneka Kacang dan Umbi) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (2021) bahwa sentra pengembangan porang di Indonesia, telah tersebar di beberapa daerah seperti : di Jawa Timur yaitu Madiun, Banyuwangi, Kediri, Ngawi, Nganjuk, Ponorogo, dan Bojonegoro.

Di Jawa Tengah seperti Blora dan Wonogiri, Bogor untuk wilayah Jawa Barat, Kulonprogo di DIY, Humbang Hasundutan di Sumatra Utara, Pandeglang Banten, serta Gowa dan Pangkep di Sulawesi Selatan. Saat ini porang telah dikembangkan di lahan eksisting seluas 47,4 ribu ha di 15 propinsi dan ditargetkan bisa mencapai 100ribu ha di Tahun 2024 (Katadata.co)

Buton sendiri bukanlah daerah sentra tanaman porang, bahkan mungkin terbilang baru. Namun timbulnya minat budi daya porang ini menggelitik kami untuk menelusuri kegiatan masyarakat Buton yang bukan hanya mengembangkan porang dari varietas yang sudah dilepas seperti Madiun 1 tetapi menggunakan bibit-bibit porang yang ditemukan di hutan Lambusango dan hutan-hutan kecil lain di sekitarnya. Sangat mungkin akan terjadi kesalahpahaman di masyarakat ketika ternyata yang dikembangkan kemudian adalah bukan tanaman porang. Namun yang pasti plasma nutfah yang ditemui di lapangan bisa mengidentifikasi jenis “porang” yang akan dikembangbiakkan.

Ciri khusus dari tanaman porang adalah menghasilkan bulbil atau lebih dikenal dengan istilah katak yang akan muncul pada pertemuan cabang atau ketiak daun. Katak ini akan muncul pada akhir musim pertama saat tanaman porang memasuki masa dorman di musim kemarau. Porang akan berjatuhan seiring dengan tanaman porang yang mengering menunggu datangnya musim kedua biasanya ditandai dengan datangnya musim penghujan.

Sesungguhnya dalam Al-Qur’an Surah Al A’raf 58 Allah telah menyampaikan : “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan ; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur”.

Tanaman porang sendiri merupakan tanaman yang dapat hidup di jenis tanah apa saja. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa porang merupakan tanaman dalam genus Amorphopallus yang saat ini memiliki 7 spesies yaitu : (1)Amorphophallus oncophyllus (2) Amorphophallus campanulatus (3) Amorphophallus variabilis (4) Amorphophallus decus silvae (5) Amorphophallus spectabilis (6) Amorphophallus titanium dan (7) Amorphophallus muelleri. Jenis 1,2 dan 3 adalah yang bisa dimakan dan yang 7 adalah porang yang diekspor (Aditya, R.,2021).

Cermati dan kenali ciri-ciri tanaman yang menyerupai porang berikut ini;

  1. Iles-iles dengan warna umbi putih dan tidak memiliki katak, dengan warna pohon hitam ada loreng hitam putih serta daun tipis.
  2. Walur dengan ciri memiliki umbi warna putih agak kuning namun punya serat. Pada umbi bagian luar punya buntil kecil atau calon anakan, kemudian pohon kasar beda dengan porang yang halus. Ciri lain dipastikan tidak memiliki daun tipis serta warna pohon hitam dengan batang loreng hitam putih.
  3. Suweg memiliki umbi warna kuning agak putih dengan bagian luar punya buntil kecil menyerupai walur dengan bentuk umbi berserat.
  4. Blodor dengan ciri, pada batang pohon sama dengan walur, tetapi pohon lebih kasar dan lebih tinggi besar menyerupai pohon pepaya (Harianto S., Detik news, 2020).

Terkait dengan fenomena budi daya tanaman porang yang mulai merambah wilayah Buton daratan, masih perlu kajian lebih jauh lagi untuk bisa memastikan jenis tanaman yang saat ini mulai dikembangkan. Khususnya pilihan pemanfaatan plasma nutfah sebagai sumber bahan tanamannya.

Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Doktor Ilmu Pertanian
Universitas Muhammadiyah Malang

COVID BUSEL