PUBLIKSATU, BAUBAU – Radjlun mengaku tak sepersenpun menerima keuntungan ilegal dari proyek pasar Palabusa Kecamatan Lealea. Mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Baubau merasa dijadikan tersangka korupsi hanya karena bangunan belum difungsikan.

“Keuntungan itu sudah disampaikan dalam pemeriksaan sebagai saksi bahwa klien kami (Radjlun) tidak pernah terima dana dari kegiatan proyek ini. Jadi, anggaran dipakai untuk pembangunan itu, tidak ada satupun masuk ke kantong pribadi klien kami,” ungkap kuasa hukum Radjlun, La Ode Taufik, dikonfirmasi di salah satu kedai, Minggu (12/9) kemarin.

Memang, kata dia, hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan ada potensi kerugian negara dari proyek pasar Palabusa itu sekitar Rp 67 juta. Namun, kerugian tersebut telah dikembalikan semuanya oleh kontraktor pelaksana proyek.

“Anggaran kegiatan itu hanya PPN (Pajak Pertambahan Nilai dan PPh (Pajak Penghasilan) yang kembali ke kas negara. Selebihnya Rp 2,5 miliar sekian, oleh BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dianggap kerugian negara atau istilahnya total los. Karena setelah dibangun tidak diapa-apakan atau tidak digunakan sampai sekarang,” jelasnya.

Menurut dia, BPKP memang punya mekanisme penilaian tersendiri dalam penggunaan anggaran negara. Setiap kegiatan dipatok harus punya input dan output atau dengan kata lain bangunan pasar Palabusa tersebut harus memberikan kontribusi terhadap negara.

Lebih jauh, terang dia, Radjlun selaku Pejabat Pembuat Komitmen sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam proyek tersebut menilai pekerjaan itu bangunan pasar Palabusa telah sesuai perencanaan. Radjlun merasa tidak punya kapasitas untuk menentukan kualitas bangunan itu apakah merugikan negara atau tidak.

“Padahal pasar itu sudah diresmikan waktu itu. Kemudian, secara mekanisme pelaksanaan pekerjaan itu sudah diserahkan ke Pemkot (Pemerintah Kota) Baubau dalam hal ini BPKAD Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah) dan sudah tercatat sebagai aset. Sekarang ini tinggal persoalan regulasi saja bagaimana barang ini dikelola,” imbuhnya.

Kendati begitu, tegas dia, Radjlun menghargai dan siap menghadapi proses hukum perkara korupsi proyek pasar itu hingga ke persidangan. Pun, tim kuasa akan berusaha semaksimal mungkin membuktikan Radjlun tidak bersalah di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor).

“Klien kami masih di tahan di sel Mapolres Baubau. Secara kejiwaan, beliau sangat tegar dan semangat menghadapi kasus ini. Karena memang beliau merasa yakin tidak mengambil keuntungan pribadi dari proyek pasar itu,” tutur Taufik.

Rencananya, tambah dia, pekan ini pihaknya juga akan mengajukan penangguhan atau pengalihan penahanan menjadi tahanan kota untuk Radjlun. Pertimbangannya yakni kondisi fisik sedang tidak sehat, umur sudah tua, dan kooperatif atau tidak akan melarikan diri.

“Jaminannya saya sebagai kuasa hukum dan pihak keluarga. Kalau melarikan diri, maka konsekuensinya kami yang bermasalah. Tapi, nanti tergantung dari Jaksa, apakah mau kabulkan atau tidak pengajuan penangguhan ataupun pengalihan penahanan itu,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, Radjlun ditetapkan dan langsung ditahan sebagai tersangka proyek pasar Palabusa bersama dua orang lainnya yaitu F dan A, Selasa (31/8) lalu. Proyek itu bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Baubau tahun 2017 sebesar Rp 2.865.720.000. Oleh BPKP, proyek yang digarap PT TSIP itu merugikan negara Rp 2.527.444.000.(exa)

COVID BUSEL