PUBLIKSATU, BAUBAU – PT Pelni Cabang Baubau masih menutup layanan penjualan tiket keberangkatan ke sejumlah pelabuhan bagian timur Indonesia. Salah satunya tujuan Kota Jayapura, Provinsi Papua.

Alasannya, Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura mewajibkan setiap orang luar yang masuk dilengkapi dengan Surat Keterangan (Suket) negatif Covid-19 berdasarkan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR). Sementara, di Baubau sendiri belum ada layanan pemeriksaan PCR untuk masyarakat umum.

Kepala Cabang PT Pelni Baubau, Juni Samsudin Sitorus mengatakan, syarat hasil pemeriksaan PCR itu menyulitkan Pelni untuk memberangkatkan calon penumpang. Selain Jayapura, aturan PCR tersebut berlaku juga di beberapa daerah Papua antara lain Kaimana, Tual, dan Fak-Fak.

“Jadi, saat ini kami tidak menjual tiket kapal dari Baubau ke beberapa pelabuhan tujuan Papua, salah satunya Jayapura. Kami lakukan itu karena calon penumpang sulit penuhi syarat PCR,” ungkap JS Sitorus, dikonfirmasi di kantornya, Kamis (9/9) kemarin.

Kata dia, penutupan penjualan tiket ke Papua tersebut sudah berlangsung sejak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) beberapa waktu lalu. Hal itu diperkuat dengan surat edaran Wali Kota Jayapura yang menyatakan penggunaan Suket hasil antigen hanya bagi warga domisili Papua, sementara dari luar diwajibkan pakai PCR.

“Syarat PCR ini agak memberatkan calon penumpang yang akan berangkat ke Papua karena belum ada tempat melakukan PCR, sampel harus dibawa ke Kota Kendari atau Kota Makassar. Sebenarnya, ada solusi lainnya yaitu Satgas Covid-19 Baubau mau memberikan Suket ke calon penumpang yang menyatakan bahwa di Baubau belum ada layanan PCR untuk umum,” jelasnya.

Normalnya, menurut Sitorus, jumlah calon penumpang dari pelabuhan Baubau tujuan Jayapura terbilang tinggi, rata-rata 100 per kapal. “Olehnya itu kami meminta Pemkot Baubau bisa melayani pemeriksaan PCR untuk masyarakat umum khususnya bagi calon penumpang tujuan ke Papua,” tambahnya.

Sementara itu, Humas RSUD Baubau, Roslina mengakui, pihaknya memang sudah mengoperasikan alat PCR sekitar akhir tahun 2020 lalu. Namun, sampai saat ini pihaknya belum membuka layanan pemeriksaan PCR bagi masyarakat umum.

“Saat ini pemeriksaan PCR masih terbatas untuk pasien di Rumah Sakit, tracing (pelacakan, dan warga rujukan Dinas Kesehatan. Kalau umum belum. Tapi, sementara ini masih disusun regulasinya agar bisa digunakan untuk melayani pemeriksaan kepada masyarakat umum,” tutur Roslina, dihubungi lewat telepon seluler. (p5)

COVID BUSEL