PUBLIKSATU, BUTON – Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Lasalimu, Kabupaten Buton, berhasil meraih peringkat II tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam Program Sekolah Penggerak (PSP) yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Januari 2021.

Program ini merupakan upaya Kemendikbud untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang mencakup kompetensi literasi dan numerasi serta karakter.

Kendati demikian, PSP bukan memilih sekolah favorit atau sekolah unggulan, melainkan untuk mendorong transformasi sekolah-sekolah lainnya, baik negeri dan swasta lainnya untuk menjadi Sekolah Penggerak.

Ada banyak manfaat untuk sekolah bisa mengikuti PSP. Dua di antaranya adalah meningkatkan hasil mutu pendidikan dalam kurun waktu tiga tahun serta meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan guru.

Nantinya, sekolah akan mendapatkan pendampingan dilakukan selama tiga tahun ajaran dan sekolah melanjutkan upaya transformasi secara mandiri.

Pada tahun ajaran (TA) 2021/2022, program itu melibatkan 2.500 satuan pendidikan di 34 provinsi dan 111 kabupaten/kota.
TA 2022/2023, akan melibatkan 10.000 satuan pendidikan di 34 provinsi dan 250 kabupaten/kota.

Selanjutnya TA 2023/2024 akan melibatkan 20.000 satuan pendidikan di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Targetnya sampai 100 persen satuan pendidikan menjadi Sekolah Penggerak.

Tahun 2021 sebagai tahun pertama peluncuran PSP ini, Provinsi Sultra, khususnya Jenjang SMA mendapat kuota sembilan sekolah yang tersebar dalam tiga Kabupaten, Yakni Kabupaten Buton, Buton Tengah dan Kolaka Utara.

Kuota sembilan sekolah ini diperebutkan 45 SMA negeri dan swasta di tiga kabupaten tersebut. Dari sembilan kuota itu, SMAN 1 Lasalimu lolos menjadi peringkat kedua.

“Alhamdulillah, setelah melalui dua tahap seleksi, Tahap 1(CV, Mengisi Essay dan Tes Bakat Skolastik) dan Tahap 2 (Simulasi Mengajar dan Wawancara), sekolah kami SMAN 1 Lasalimu, finish di peringkat kedua untuk Provinsi Sultra dan peringkat 1 di Kabupaten Buton,” ungkap Kepala SMAN 1 Lasalimu, Syahrul SPd MPd, kepada media ini, Kamis (29/4/2021).

Atas prestasi tersebut, Syahrul mengaku senang dan bangga, karena sejak awal dirinya sangat menginginkan sekolahnya terpilih sebagai Sekolah Penggerak. Apalagi Tahun 2021 ini merupakan tahun pertama peluncuran PSP ini.

Pria asal Baruta, Kabupaten Buteng ini, menuturkan motivasi dirinya mengikutkan SMAN 1 Lasalimu dalam PSP 2021. Berawal dari dirinya mengikuti sosialisasi PSP, dari situlah ia mendapatkan informasi kebaikan-kebaikan dan manfaat PSP.

“Disinilah awal saya tertarik untuk mendaftar sebagai Kepala Sekolah Penggerak. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan yang dilakukan Kemendikbud,” ujar Syahrul.

Apalagi, kata dia, PSP ini merupakan penyempurnaan dari program sebelumnya terkait transformasi sekolah. Program ini akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak satu sampai dua tahap lebih maju.

“Menurut saya ini kesempatan terbaik buat sekolah saya untuk berubah dan mengejar ketertinggalan. Selain itu, PSP ini sangat membantu sekolah dalam meningkatkan kualitas lulusannya karena berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik mencakup kompetensi literasi, numerasi dan karakter yang diawali dengan penguatan SDM yang unggul yakni kepala sekolah dan gurunya,” jelasnya.

Syahrul membeberkan, sejak PSP ini diluncurkan Januari lalu, dirinya langsung mensosialisasikannya kepada para guru dan Komite sekolah untuk mendapatkan dukungan.

“Alhamdulilah sambutan dari mereka sangat baik sekali, mendukung penuh langkah sekolah mendaftar sebagai sekolah penggerak. Dukungan Ini yang memacu saya untuk lebih ekstra mempersiapkan diri mengikuti seleksi, karena masuk tidaknya sebuah sekolah dalam sekolah penggerak ditentukan oleh Kepala Sekolahnya,” paparnya.

Menurutnya, dalam PSP posisi seorang kepala sekolah sangat menentukan. Selain harus bisa mengatur operasional sekolah, juga harus mengerti proses pembelajaran siswa dan mampu mengembangkan potensi guru serta diharapkan akan menjadi mentor untuk guru-guru disekolah.

“Olehnya itu, kepala sekolah diharuskan mengikuti dua tahap seleksi. Dan Alhamdulillah hari ini sudah terjawab, SMAN 1 Lasalimu lolos dalam seleksi dan masuk sebagai salah satu sekolah di Sultra yang mengikuti PSP,” kata Syahrul penuh syukur.

Ia menambahkan, pada prinsipnya semua elemen sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, dan komite sekolah mendukung penuh dan siap mensukseskan PSP di SMAN 1 Lasalimu.

“Saya sebagai Kepala sekolah siap menggerakkan komunitas belajar di sekolah dalam upaya mengembangkan program kepemimpinan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila,” tutup Syahrul.

Untuk diketahui, SMAN 1 Lasalimu ini didirikan pada tahun 2000 silam. Enam tahun kemudian, tepatnya 2006 berstatus sekolah negeri. Saat ini, sekolah yang terletak di Kelurahan Kamaru, Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton ini telah memiliki 315 siswa dengan 27 orang guru.(***)

COVID BUSEL