Catatan: Irwansyah Amunu

PECAH telur. Akhirnya dua hari, Sabtu dan Minggu (6-7/3) saya melakukan perjalanan ke luar daerah.

Sepanjang pandemi Covid-19, saya belum pernah ke luar daerah. Biasanya, setiap bulan saya melakukan perjalanan. Namun sejak pandemi, selama setahun saya hanya jaga kampung. Hehehe.

Namun akhir pekan lalu, rekor pecah. Melakukan perjalanan karena anak sulung saya, Syah Jihad Fi Sabilillah hendak masuk Ponpes Baron di Kabupaten Nganjuk, Jatim.

Dia masuk program Dirasah Khashshah Daar Al-Musthofa (DKDM). Tamat MIS, dia sudah diterima sebagai santri di sana. Karena pandemi, jadilah selama ini pembelajarannya melalui daring. Ustaznya di Nganjuk, Jihad di Baubau.

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya pihak Ponpes menetapkan pertemuan melalui tatap muka. Karenanya saya mengantarkan langsung ke sana.

Sebelumnya, kami berdua menjalani pemeriksaan rapid test antigen difasilitasi Plt. Kadis Kesehatan Kota Baubau, Rahmat Tuta. Tes menggunakan sampel lendir pernapasan yang diambil dengan teknik swab, mirip pada tes PCR. Alhamdulillah hasilnya negatif.

Sepanjang perjalanan kami menerapkan protokol kesehatan (Prokes) secara ketat. Pakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan. Sadar kami memasuki zona merah.

Entah dengan nada guyon, pihak Dinkes mewanti-wanti spesies Covid-19 di Jawa lebih kuat dibanding di Baubau. Jadi, waspada.

Tiba di bandara Juanda, Sidoarjo saya sudah menghubungi pihak Ponpes untuk difasilitasi dengan kendaraan dari Baron. Tujuannya agar menghindari kontak.

Dari sini saya lebih banyak mendengar penjelasan, pihak Ponpes menerapkan standar tinggi terhadap santrinya. Semua santri yang masuk, wajid dikarantina mandiri selama 14 hari.

Ustaz yang mukim di luar Pondok tidak boleh tatap muka langsung dengan santri. Mereka melakukan pembelajaran via daring. Yang boleh tatap muka hanya yang mukim di dalam pondok.

Bukan hanya itu, pertemuan antara orang tua dan anaknya pun dibatasi. Tidak boleh ada kontak langsung.

Saya mafhum dengan standar tinggi yang diterapkan pihak Pondok. Pimpinanya seorang dokter plus bagian dari Satgas Penanggulangan Covid-19 Nganjuk. Ditambah lagi santrinya banyak dari luar daerah. Bisa dikatakan berasal dari Aceh sampai Papua.

Sesampainya di Pondok, saya hanya bisa mengantar hingga di pos piket. Semua tas disemprot disinfektan. Selanjutnya Jihad ditangani langsung pihak Nakes dari Pondok. Tidak bisa kontak lagi.

Keesokan harinya, saya langsung balik ke Baubau. Transit di Bandara Hasanuddin, Makassar, saya sempat bertemu Ketua DPRD Baubau, H Zahari.

Meski sudah dua kali divaksinasi, dia mengaku masih menjalani rapid test antigen. Hasilnya negatif. Sengaja dia melakukannya untuk mengetahui sejauh mana keampuhan vaksin yang dijalaninya. Hasilnya memuaskan.

Memang test ini adalah syarat yang diminta pihak Karantina Kesehatan Bandara. Tanpanya kita tidak bisa melakukan penerbangan. Meski sudah mengantongi tiket.

Soal ini, mestinya pihak Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan duduk satu meja. Apakah yang sudah melakukan vaksinasi ketika melakukan perjalanan wajib dilengkapi rapid test antigen lagi atau tidak? Sepertinya ini juga perlu standar tinggi.(Follow Instagram: @irwansyahamununews)

COVID BUSEL