Hari yang Sama, Kades Lapao-pao Juga Jadi Tersangka, dan Ditahan

PUBLIKSATU, KOLAKA – Setelah melakukan penyelidikan selama hampir satu tahun, Kejari Kolaka akhirnya menetapkan MT, sekretaris DPRD (Sekwan) Kolaka sebagai tersangka kasus korupsi.

Penetapan MT sebagai tersangka kasus korupsi disampaikan langsung Kepala Kejari Kolaka Indawan Kuswadi dalam konferensi pers yang digelar di kantor Kejari Kolaka, Selasa (2/3/2021).

Selain MT, Kejari Kolaka juga menetapkan M, bendahara rutin DPRD Kolaka sebagai tersangka dalam kasus yang sama.

“Sudah kita tetapkan sebagai tersangka ini adalah penanganan perkara penyimpangan atau penyalahgunaan anggaran pada sekretariat DPRD Kabupaten Kolaka tahun anggaran 2019 dan 2020,” ungkap Kajari.

Dijelaskan Indawan, penetapan MT dan M sebagai tersangka didasari bukti permulaan dugaan korupsi dana rutin DPRD Kolaka yang merugikan negara lebih dari Rp 3,3 miliar.

Ditambahkan Indawan, MT selaku Sekwan dan M diduga melakukan mark up dan pembayaran fiktif menggunakan dana rutin DPRD Kolaka.

Terkait kemungkinan dilakukan penahanan terhadap keduanya, Indawan menyerahkan hal itu kepada Kasi Pid.Sus.

Dalam kasus yang menjerat MT dan M, Indawan mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima dana pengembalian sebesar Rp 41.200.000 dari MT.

Selain menetapkan MT dan M sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana rutin sekretariat DPRD, saat bersamaan Kajari yang didampingi Kasi Pid.Sus Amrisal juga mengumumkan penetapan MRN, Kepala Desa Lapao-pao sebagai tersangka dalam kasus korupsi Dana Desa (DD) di Desa Lapao-pao, kecamatan Wolo.

MRN ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi dana desa tahun 2018-2019 yang menyebabkan kerugian negara hingga Rp 1.047.000.000.

Berbeda dengan kasus dugaan korupsi dana rutin DPRD Kolaka, MRN selaku tersangka korupsi dana desa langsung ditahan usai ditetapkan sebagai tersangka.

“Kita sudah lakukan penahanan untuk 20 hari kedepan sejak dilakukannya penahanan,” ujar Indawan.

Berbeda dengan dua tersangka korupsi DPRD Kolaka, MRN selalu Kades Lapao-pao menjadi satu-satunya tersangka dalam kasus korupsi yang menjeratnya.

“Biasanya kasus korupsi itu dilakukan secara bersama-sama tapi dalam kasus dana desa ini tersangka memang melakukannya sendiri, pelaku tunggal,” pungkas Indawan.

Abdul Razak, kuasa hukum MT yang sedang berada di Kolaka Utara mengaku telah mengetahui penetapan status hukum atas kilennya.

Razak tidak banyak memberi keterangan, ia hanya mengungkapkan harapannya Kejari Kolaka dapat bertindak secara obyektif.

“Kita sudah tahu, harapan kita kejaksaan bisa bertindak obyektif,” ujarnya singkat. (p12)

COVID BUSEL