PUBLIKSATU – Jalan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menuju Pilpres 2024 memang tidak semulus yang dibayangkan. Meski panggung dan modal politik sudah di kantong, Menko Perekonomian itu harus tetap berhadapan dengan sejumlah faksi yang ada di tubuh beringin.

Dari segi politik, Airlangga cukup mumpuni menjadi calon presiden ke depan. Diketahui, Airlangga menjadi menteri dua periode di bidang perekonomian era Jokowi dan masih menjadi pemimpin Partai Golkar.

Hanya saja, peran senior-senior Partai Golkar seperti Jusuf Kalla, Luhut Binsar Panjaitan, Agung Laksono, dan Aburizal Bakrie tidak boleh dikesampingkan oleh Airlangga.

Para pentolan beringin juga memiliki kepentingan siapa yang bakal dijagokan untuk penerus Jokowi di 2024 dari Golkar.

Namun begitu, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menilai Airlangga merupakan jalan tengah di antara faksi-faksi di tubuh Partai Golkar. Faksi-faksi yang ada sendiri merupakan faktor yang membuat Golkar tetap menjadi partai besar.

“Airlangga ini selalu bisa menjadi jalan tengah di faksi-faksi yang bersaing di dalam Golkar,” tegasnya seperti dilansir dari Kantor Berita Politik RMOL, Senin (25/1).

Kehadiran Airlangga, sambung pria yang akrab disapa Hensat itu, berhasil membawa keteduhan bagi Golkar. Arilangga berhasil menyatukan kekuatan yang ada sehingga membuat Golkar menjadi besar.

“Nah, jalan tengah bagi faksi-faksi ini ada di Airlangga. Karena Airlangga mendekat dengan nama-nama yang disebutkan tadi, JK, ARB, Luhut, Agung Laksono,” katanya.

Menurutnya, jika Airlangga dipilih menjadi calon presiden dari Golkar, maka keputusan itu tidak akan melukai pihak manapun di tubuh partai.

“Jadi kalau pilih Airlangga, itu memilih jalur yang tidak melukai faksi-faksi yang ada. Jadi jalan tengah. Itu kelebihan Airlangga,” tandasnya. (rmol)

COVID BUSEL