PUBLIKSATU.COM, KENDARI – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sulawesi Tenggara (Sultra), Rahman R mengexplore keindahan pulau Namu yang akan menjadi salah satu trip (objek) perjalanan wisata Asita Sultra.

Pulau Namu terdapat desa kecil yang menyimpan segudang objek wisata yang berada dikecamatan Laonti, Konawe Selatan.

Untuk perjalanan ke pulau Namu cukup terjangkau dan mudah, melalui Asita Sultra berangkat jam 08.00 pagi mengunakan bus dengan disuguhkan pemandangan hutan asri dan pedesaan sekitar kurang lebih dua jam hingga tiba ke pelabuhan penyebrangan menuju pulau Namu.

Melalui jembatan dengan mengunakan perahu kayu bermesin dengan jarak tempuh sekitar kurang lebih 45 menit tiba di pulau Namu.

Bukan tanpa alasan Asita Sultra menobatkan pulau Namu sebagai salah satu destinasi wisata. Di Namu terdapat pemandangan yang indah dengan air laut yang jernih serta berbagai jenis terumbu karang.

Bahkan bukan hanya laut, destinasi wisata darat pun tak kalah indahnya dengan disuguhkan pemandangan air terjun serta hutan yang masih asri ditambah dengan taman buatan menambah keindahan pulau Namu.

Rahman R, yang juga Koordinator Wilayah (Korwil) Asita Sulawesi, mengatakan tujuan membuka trip Namu merupakan promosi pariwisata di era New Normal. Dimana menurutnya pariwisata adalah ujung tombak perekonomian.

“Efek pariwisata bisa menyentuh semua lini. Sebab jika pariwisata ini berjalan, maka hampir semua peluang usaha guna mendongkrak perekonomian akibat pandemi dapat teratasai,” ungkapnya.

Diakuinya, sebelum terjadinya wabah pandemi Covid-19, hampir di setiap bulan ia melakukan survey ke kabupaten/kota di Sultra dalam rangka membuat pola perjalanan wisata dan paket tour.

“Sebab kita tidak dapat membuat pola paket tour perjalanan wisata tanpa kunjungan terlebih dahulu. Dari kunjungan tersebut beberapa poin yang menjadi penilaian saya yaitu atraksi aksesibilitas dan amenitasnya,” tuturnya.

Dijelaskannya amenitas adalah semua bentuk fasilitas yang memberikan pelayanan bagi wisatawan untuk segala kebutuhan selama tinggal atau berkunjung pada suatu daerah tujuan wisata, seperti hotel, motel, restoran, bar, diskotik, café, pusat perbelanjaan, toko suvenir, rumah makan.

Sedangkan aksesibilitas pariwisata adalah semua jenis sarana dan prasarana transportasi yang mendukung pergerakan wisatawan dari wilayah asal wisatawan ke destinasi pariwisata.

Ia menambahkan dalam pariwisata juga terdapat tiga kerangka yakni branding advertising dan selling yang biasa di singkat dengan BAS.

“Dari kerangka BAS bisa membuat sebuah konsep yakni branding suatu objek agar bisa terkenal, kemudian advertising yaitu dengan mengiklankan dan selling atau strategi penjualannya,” ulasnya.

Rahman R yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Sultra itu juga mengaku rela mengorbankan dan mewakafkan dirinya demi pariwisata dengan niat agar berefek pada generasi-generasi berikutnya.

“Yang mana harapan saya dari pariwisata dapat berefek pada alam kita yang baik, karena terus terang kalau pariwisata maju hingga dunia kiamatpun alamnya akan terpelihara,” jelasnya. (po7)

COVID BUSEL