Catatan: Irwansyah Amunu

SATU lagi terobosan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19. Bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membuat pedoman perubahan perilaku protokol kesehatan (prokes) 3M dalam 77 bahasa daerah. 3M yang di maksud adalah wajib memakai masker, wajib mencuci tangan dan wajih menjaga jarak.

Menariknya, dari 77 bahasa daerah tersebut salah satunya, Bahasa Wolio. Memang untuk Sulawesi Tenggara, lima bahasa daerah yang digunakan. Selain Bahasa Wolio, ada juga Bahasa Tolaki, Muna, Kulisusu, dan Wakatobi.

Apakah hal tersebut akan berbuah manis? Entahlah. Yang jelas, salah satu ikhtiar yang mesti dihargai.

Pendekatannya pun patut diacungi jempol. Menggunakan local wisdom.

Nah, bicara local wisdom, sebenarnya tradisi Buton punya. Secara sederhana misalnya, di depan rumah masyarakat ada guci.

Siapa saja yang hendak masuk rumah, lebih dulu mencuci kaki, tangan, dan wajah. Kalau salah satu Prokes menyebutkan mencuci tangan, local wisdom Buton lebih jauh lagi.

Sehingga melalui pendekatan Bahasa Wolio, ditambah dengan local wisdom Buton, lengkap sudah.

Secara geografis, masyarakat kita memang banyak yang tinggal dikawasan pedesaan. Pola komunikasi menggunakan bahasa daerah lebih dominan. Publiksi Prokes dengan bahasa daerah menjadi salah satu yang urgen.

Sejalan dengan keinginan Mendikbud Nadiem Makarim. Dia mengatakan pedoman perubahan perilaku protokol kesehatan (prokes) 3M dalam 77 bahasa daerah mmerupakan upaya pemerintah dalam mengenalkan pedoman perubahan perilaku terkait protokol kesehatan 3M untuk menjangkau masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia agar lebih mudah dipahami dan diterapkan di lingkungan masing-masing.

Dengan begitu, tantangan komunikasi dan sosialisasi publik segera diatasi. Apakah hasilnya akan sesuai harapan? Patut ditunggu.

Sejauh ini, hukuman telah diberikan. Denda sudah dijatuhkan. Opersai Yustisi terus digalakkan.(Follow Instagram: @irwansyahamununews)

COVID BUSEL