Abu Hasan: BUMDes Basis Ekonomi Permanen di Desa

PUBLIKSATU, BUTON UTARA – Kabupaten Buton Utara (Butur) memiliki keunggulan tersendiri dalam mengelola bidang pertanian. Utamanya untuk menghasilkan produksi pertanian yang bebas dari penggunaan pupuk kimia (anorganik). Bahkan Butur merupakan daerah yang mampu memproduksi sendiri pupuk organik terbesar di Sultra.

Demikian disampaikan Calon Bupati dan Wakil Bupati Buton Utara periode 2021-2026, Abu Hasan-Suhuzu (AHS) di hadapan masyarakat Desa Lampala Jaya, Kecamatan Kulisusu Barat (Kulbar), akhir pekan ini.

“Saya sudah mencanangkan daerah ini adalah kabupaten organik. Satu-satunya pabrik pupuk organik yang terbesar di Sulawesi Tenggara, dan tempatnya di Buton Utara, dan tempatnya di Dampala Jaya. Pupuk organik ini tidak saja berfungsi untuk padi, tapi hari ini sudah merambah pada jambu dan kelapa,” jelas mantan Ketua DPD PDIP Sultra, Abu Hasan yang disambut tepuk tangan meriah dari peserta kampanye terbatas.

Abu Hasan menegaskan, bahwa mitra bisnis pembeli kopra putih dan jambu mete tidak mau membeli jika hasil kedua pertanian tersebut tidak menggunakan pupuk organik. Maka sekarang ini sudah banyak yang membeli pupuk organik, harganya lebih murah, aman, sehat dari pada pupuk yang lain. “Dimana mana saya pidato saya sampaikan pusatnya pupuk organik di Lampala Jaya, sekarang namanya terkenal di seluruh wilayah,” katanya.

Pasangan AHS ini mengaku Desa Lampala Jaya sama terkenalnya dengan Buton Utara. Karena setiap kali diundang Menteri Pertanian untuk persentase di Jakarta, selalu diperkenalkan di nasional tentang pertanian organik, dan tempatnya di Lampala Jaya. “Sehingga namanya terkenal sama dengan Buton Utara, karena setiap persentase nama desa ini selalu disebut,” katanya.

Mantan Kepala Biro Humas Pemprov Sultra ini, menceritakan awal masuknya bantuan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp 4 miliar lebih dari Kementerian Pertanian. “Berkat Lampala Jaya, sehingga Buton Utara dapat bantuan. Maka saya harus hadir menyampaikan apa yang harus kerjakan lima tahun yang akan datang? Untuk Buton Utara, untuk Kulisusu Barat dan untuk Lampala Jaya,” kata Abu Hasan.

Pemilik nomor urut tiga ini menjawab pertanyaan yang coba dimunculkan nya sendiri, terkait visi dan misinya lima tahun kedepan. Pertama visi AHS tidak berubah, tetap Butur harus aman, tidak boleh ada konflik.

“Konflik antara individu, kelompok masyarakat, suku, agama dan antara desa tidak boleh terjadi. Ini cita-cita saya lima tahu lalu, dan Alhamdulillah tercipta tertip sosial di Buton Utara, termasuk di Lampala Jaya. Daerah lain kita dengar di Buton antar desa yang satu membakar desa yang lain. Di Konawe, antara desa satu dengan desa yang lain saling menyerang, alhamdulilah di Butur aman, berkas doanya para Ustadz,” ungkap Calon Bupati Petahana ini.

Visa AHS kedua, menjaga keragaman budaya agar tercipta masyarakat yang berbudaya. Butur memiliki masyarakat yang multi etnis, yakni orang Jawa, Sunda, Lombok, NTT, Bali, Bugis, Muna, Buton, Tolaki dan Kulisusu. “Saya ditanya siapa masyarakat Buton Utara? Saya hanya jawab, semua orang yang tinggal di Buton Utara, tanpa melihat latar belakang dari mana dia berasal, apa agamanya. Mau dari Jawa, Bali, Makassar, NTT, itu namanya orang Buton Utara,” jelas Abu Hasan.

Abu Hasan menegaskan, bahwa semua budaya yang tumbuh dan berkembang yang berasal dari semua suku, namanya budaya Buton Utara. Itu cita-cita yang ingin diwujudkan AHS, sehingga tidak ada perbedaan dalam menciptakan pememerataan pembangunan. “Sehingga saya kalau melayani tamu, tidak ada yang saya beda-bedakan, dari mana asalnya, anaknya siapa, siapa bapaknya, apa kerjaannya, semua diratakan dan samakan. Karena ini visi AHS yang harus diwujudkan, budaya kita sangat kaya dan ini modal kita dalam membangun Butur kedepan,” ungkapnya.

Ketua Dewan Pertimbangan DPD PDIP Sultra ini menyampaikan visi AHS yang ketiga adalah menciptakan religiusitas. Abu Hasan berharap, agar setiap pemeluk agama senantiasa melaksanakan ajaran agamanya secara totalitas. “Kalau dalam Islam kita dianjurkan untuk masuk Islam secara kaffa. Masuklah kamu dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu,” kata Abu Hasan, mengutip salah satu ayat dalam Al-Quran, kita suci umat Islam.

Bupati petahana ini berharap, agar umat non muslim juga melaksanakan ajaran agamanya secara totalitas. Itulah sebabnya di periode pertama Abu Hasan-Ramadio (ABR) membangun sarana ibadah di seluruh wilayah Butur. Karena yang diharapkan agar semua pemeluk agama yang tumbuh dan berkembang di desa-desa mampu mengamalkan ajaran agamanya masing-masing.

“Memang belum semua bisa kita bantu, tapi insyaallah akan dijangkau. Begitu sudah selesai dibantu mesjid yang satu kita akan pindah ke mesjid lain, sehingga semua bisa kita jangkau. Rumah ibadah agama yang lain juga demikian, kenapa? Supaya religiusitas tumbuh di mana-mana, karena agama juga modal pembangunan, kekuatan mental dan spiritual adalah modal pembangunan,” harap Abu Hasan.

Visi AHS keempat, bagaimana menciptakan masyarakat Butur yang maju dan sejahtera. Abu Hasan menjelaskan masksud dari kata sejahtera adalah sesuai potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki desa masing-masing. Dan akan dilakukan dengan cara subsidi, melalui ekonomi kerakyatan sehingga pengembangan BUMDes, dan Koperasi.

“Setiap desa memiliki potensi pertanian, perikanan, dan kelautan. BUMDes kita akan jadikan basis ekonomi permanen yang ada di desa. Siap-siap pengurus BUMDes ini kita akan latih dan kita akan bermitra dengan Bank Indonesia (BI). Mereka (BI, red) sudah siap untuk melatih sehingga BUMDes memiliki visi bisnis, dan wawasan, agar mampu meningkatkan pendapatan di desa masing-masing,” harap Abu Hasan. (publiksatu)

COVID BUSEL