AHS Pertajam Visi Misi

PUBLIKSATU, BUTON UTARA – Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Buton Utara (Butur) periode 2021-2026, Abu Hasan-Suhuzu (AHS) mempertajam program kerja mereka di hadapan peserta kampanye di Desa Elhaji, Kecamatan Kulisusu, Sabtu (16/09).

Abu Hasan menjelaskan tujuan kampanye untuk mengenalkan pasangan calon bupati dan wakilnya. Penyampaian ide, gagasan dan program dalam bentuk visi dan misi calon bupati.

“Aaa menjelekkan si B, walaupun saya tahu ada kejelekannya selama menjadi bupati tujuh tahun, saya tahu dari A sampai Z. Tapi tidak perlu, tidak perlu…,yang baru juga belum menjadi bupati kita sudah tahu.., tapi tidak perlu menjelek-jelekan..,tidak perlu,” himbau Abu Hasan di depan peserta kampanye.

Calon Bupati Petahana ini menegaskan kembali visi misi AHS selama lima tahun kedepan jika terpilih menjadi bupati. “Buton Utara ini harus aman, berbudaya, religius, maju dan sejahtera. Itulah gambaran masyarakat Buton Utara, saya gambarkan seperti itu,” kata Abu Hasan ketika menyampaikan kampanyenya.

Mantan Kepala Biro Humas Pemprov Sultra ini menyampaikan kondisi lima yang lalu sebelum hadirnya Polres, Butur masih tetap aman. Tidak ada konflik antara desa, agama, suku dan lainnya, apalagi sudah hadir Polres dan Kodim di Butur.

“Memang janji saya lima tahun yang lalu, kalau saya jadi bupati saya akan hadirkan Polres, saya akan hadir Kodim, alhamdulilah hari ini saya sudah tunaikan sepenu-penunya,” ungkap Abu Hasan yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah oleh peserta kampanye.

Mantan Ketua DPD PDIP Provinsi Sultra ini mengaku, tidak ada bupati walikota yang memiliki visi aman di Sulawesi Tenggara kecuali hanya Bupati Abu Hasan. “Jadi itu hasil konsultasi saya dengan petinggi Polda ketika itu Kapoldanya pak Sabar. Saya sampaikan sama Jendral, pak visi saya aman, oh silahkan. Sampaikan sama masyarakat bahwa visi itu sudah disetujui oleh Kapolda. Kebetulan waktu urusan Polres, saya bertemu juga beliau di Mabes Polri sebagai Karorem Mabes Polri, beliau yang urus hadirnya Polres seluruh Indonesia,” bebernya.

Ketua Dewan Pertimbangan DPD PDIP Sultra ini menegaskan, bahwa Butur harus aman. “Yang kedua budaya. Buton Utara ini miniatur nya Indonesia, miniatur itu semua suku dan budaya ada. Jawa ada, Lombok ada, Bali ada, Bugis ada, Tolaki ada, Buton ada, Muna ada, Kulisusu ada, semua suku ada,” jelas Abu Hasan.

Abu Hasan mengatakan semua suku harus dilindungi, sehingga dimana pun dirinya berpidato selalu mengingatkan. Bahwa yang namanya orang Buton Utara, semua orang yang tinggal di Butur.

“Apakah itu Bugis, Jawa, Bali, itu namanya orang Buton Utara. Semua budaya kita hargai untuk tumbuh dan berkembang, yang bisa kita fasilitasi, kita fasilitasi sehingga Buton Utara ini menjadi satu kesatuan budaya Bhineka Tunggal Ika. Kita beda-beda tetapi satu negara kesatuan republik Indonesia. Itulah yang kita ciptakan di Butur, tidak boleh ada konflik budaya antara satu dengan yang lain. Semua kita kasih ruang dan kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai karakter budaya masing-masing,” beber Calon Bupati Petahana ini.

Ketua Dewan Pertimbangan DPD PDIP Provinsi Sultra ini, mengajak semua peserta kampanye untuk senantiasa berupaya meningkatkan kemampuan mutu religius masyarakat, selaku visi AHS yang ketiga. Desa Elhaji ini memiliki masyarakat yang memiliki pengalaman nilai religius yang cukup baik.

“Menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, dan menjauhi larangan Allah SWT sebaik-baiknya. Insyaallah kalau di Desa Elhaji ini terwujud dengan baik dalam menjalankan agamanya, maka Rahmat Allah akan turun. Kata Allah, barang siapa penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka niscaya Allah akan menurunkan rezki dari arah yang tidak disangka-sangka,” pungkas Abu Hasan.

Pasangan Suhuzu ini, sengaja memilih visi ketiga religius agar Rahmad Allah SWT turun di Buton Utara. Tiga visi AHS, merupakan pondasi dasar untuk membangun Buton Utara kedepan. “Pondasi ini bapak ibu sekalian, harus saya letakkan. Karena Buton Utara ini, kita akan bangun bukan 3 tahun, 4 tahun, tapi ratusan tahun kedepan. Pondasi kita harus aman, berbudaya, dan religius, agar kita tetap kokoh dalam menghadapi nilai yang datang dari luar, baik di luar Buton Utara maupun dari luar negeri,” tegas Abu Hasan.

Kemudian, Abu Hasan menimbulkan masalah dalam bentuk pertanyaan. Lalu apa kinerja AHS jika terpilih selama lima tahun kedepan? Menjawab masalah yang dihadapi Kabupaten Butur hari ini. Ada lima masalah besar yang dihadapi, pertama masalah ekonomi. “Ini masalah yang dihadapi dunia, Indonesia, Sulawesi Tenggara, termasuk Buton Utara. Ekonomi yang akan kita kembangkan di Butur, ekonomi kerakyatan yang berbasis keunggulan lokal daerah kita. Itu sangat kuat, pertanian, perkebunan, kelautan, keporasi, perdagangan, usaha mikro kecil dan menengah. Itu yang kita kembangkan, dan itu sudah ada di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Abu Hasan mengatakan, tinggal diangkat kembali, difasilitasi, disubsidi, bermitra dengan perguruan tinggi, dan mencari mitra dari luar agar sumberdaya alam bisa dijual di pasar nasional dan internasional. Supaya bisa menambah pendapatan masyarakat, baik penghasilan pokok maupun tambahan penghasilan. “Begitu bapak ibu, harus kita punya konsep untuk lima tahun kedepan. Di Alhaji, kurang apa? Di laut punya potensi, di darat kita ada, kuncinya jangan kita malas,” tegasnya.

Masalah kedua menyelesaikan infrastruktur, Abu Hasan menampik posisi jalan rusak tidak semua jalan kabupaten, tapi jalan provinsi. Jalan poros yang melewati di Elhaji adalah jalan provinsi. “Sebenarnya saya sudah mau aspal, mengunakan dana berjaga-jaga tapi BPK melarang saya. Karena ini jalan provinsi, bukan jalan kabupaten, tapi saya tutup mata ini waktu yang lalu. Saya sudah sampai kan sama gubernur, agar dia dari desa ini sampai di Labuan tapi karena Corona, sehingga belum aspal,” katanya.

Infrastruktur yang kedua AHS akan perbaiki, jalan tani, dan sumur bor. Ini tanggung jawab bupati, bukan tanggung jawab gubernur. Ketiga, Abu Hasan ingin melanjutkan visi menciptakan pemerintahan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nivotisme (KKN). “Yang ke empat, AHS akan kerjakan adalah SDM. Kalau SDM kita sekarang ini hampir tiap desa ada sarjananya, di Kalibu ada sarjananya, Elhaji ada sarjananya, di Cempaka ada sarjananya, di Tomoahi ada sarjananya, bahkan bukan S1, tapi S2. Terakhir yang kita perhatikan telekomunikasi, karena handphone sudah menjadi kebutuhan masyarakat saat ini,” katanya. (mus)

COVID BUSEL