PUBLIKSATU, WAKATOBI- Kamis (12/3) menjelang sunset, Penasehat Menteri Bidang Ekonomi Maritim Kementerian Kelautan dan Perikanan, Laode Masihu Kamaluddin melakukan kegiatan memorial planting Wakatobi Sea Bamboo untuk Combbity Garden.

Bertempat di lokasi Waha Tourism Community, Desa Waha, Masihu didampingi Akhmatul Ferlin, Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) BRSDM KP menandatangai prasasti untuk tagging lokasi memorial planting sekaligus menuliskan pesannya di atas prasasti, untuk keberlanjutan Wakatobi Sea Bamboo di lokasi Combbity Garden.

Setelah penandatanganan prasasti, dilanjutkan dengan penyerahan bibit bambu laut dari lokasi Laboratorium Konservasi LPTK, oleh Akhmatul Ferlin kepada Masihu Kamaludin untuk selanjutnya diserahkan kepada warga desa yang akan melakukan penanaman bambu laut di lokasi Combbity Garden.

Masihu dalam kesempatan ini menyampaikan apresiasi terkait teknologi Wakatobi Sea Bamboo serta Combbity Garden, sekaligus menyampaikan sejumlah masukan.

“Kegiatan ini harus dirubah paradigmanya, tidak lagi sekedar memiliki visi dan misi, tetapi harus dibingkai oleh suatu platform yang jelas. Dan platform yang relevan adalah memulihkan kondisi ekosistem karang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” papar Masihu, pria yang dikenal visioner ini.

Dalam pesannya, di atas prasasti, ia menulis, “Wakatobi Masa Depan Dunia Maritim”.

Akhmatul Ferlin, yang didampingi sejumlah Pejabat Struktural dan Fungsional (peneliti dan perekayasa) LPTK, terkait memorial planting ini, berujar,“Ini bagian dari kampanye LPTK BRSDM KP untuk mendukung PermenKP No. 8/KEPMEN-KP/2020 tentang Perlindungan Penuh Bambu Laut atau Sea Bamboo, di mana ini dalam rangka mengimplementasikan hasil riset LPTK BRSDM KP, yakni Wakatobi Sea Bamboo di lokasi Combbity Garden dengan harapan dapat memberikan dampak pada kesejahteraan masyarakat.”

Sementara itu, Sunarwan Asuhadi, selaku Ketua Kelompok Peneliti dan Perekayasa (Ka Keltiyasa) LPTK, yang mendampingi Akhmatul Ferlin, mengatakan bahwa, Combbity Garden berlokasi di Ou Ntooge Desa Waha dan Koroe Onowa, berasal dari kata kombiti dan garden. Kombiti yang dalam Bahasa Wakatobi berarti pemeliharaan atau perlindungan, sekaligus merupakan akronim dari Community Based Biodiversity Garden.

“Sedangkan Teknologi Wakatobi Sea Bamboo merupakan akronim dari Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota Sea Bamboo, yang dalam dua tahun terakhir ini diimplementasikan di lokasi Combbity Garden yang telah diinisiasi kemitraannya dengan warga Desa Waha melalui Waha Tourism Community dan Pemerintah Desa Koroe Onowa, dengan luas lokasi mencapai ± 8,5 ha,” ungkap Sunarwan.

“Lokasi blue hole Ou Ntooge yang dijadikan sebagai lokasi Combbity Garden merupakan salah satu lokasi yang pernah mengalami pengeboman ikan pada tahun 1980 – 1990-an,” pungkas Sunarwan.(iwn)

Editor : Andre prasetio

COVID BUSEL