PUBLIKSATU, KOTA Baubau memang kaya dengan potensi pariwisata. Bagaimana kiat institusi yang dipimpin Ali Arham untuk menjualnya untuk menaikkan kunjungan?

Laporan: Irwansyah Amunu, Baubau

BANYAK terobosan yang dilakukan pihak Pemkot Baubau untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan. Salah satunya melalui pengembangan destinasi wisata.

Lia A. Muchlisi, Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Baubau mengaku tahun 2019 pengembangan destinasi wisata fokus di Batusori, Samparona dan Keraton.

Batusori merupakan salah satu tempat wisata yang terdapat di Kolagana, Palabusa. Dari pusat kota membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Memiliki keunikan tersendiri karena terdapat pulau kecil yang terpisah dari daratan Baubau.

Pesona batu, pasir putih, dan keteduhan hijau biru air laut menjadi daya tarik bagi siapapun untuk berlama-lama disana. Itulah yang mengundang banyak pelancong berkunjung.

Kalau Batusori mengandalkan laut, lain lagi dengan Samparona. Disini pemandangan hijau alam Baubau yang ditampilkan. Memang pesona hutan Pinus yang jadi kekuatannya.

Untuk menarik minat wisatawan, disana terdapat aneka permainan, mulai dari flying fox, hingga memanah. Arena bermain lainnya juga disiapkan sehingga siapapun yang kesana rela berlama-lama. Apalagi waktu tempuhnya hanya sekitar 15 menit dari pusat kota.

Kalau Keraton Buton pasti sudah tidak asing. Apalagi pernah ditasbihkan sebagai Benteng Terluas di Dunia oleh Museum Rekor Indonesia (Muri). Ditambah belum lama ini, Wali Kota Baubau, Dr AS Tamrin meraih anugerah Muri karena berhasil menyelenggarakan pekakande-kandea dengan talang terbanyak di areal Benteng.

Seperti diketahui, didalamnya terdapat banyak situs bersejarah yang Instagramable untuk diabadikan. Diantaranya, Masjid Agung Keraton, Kasuluna Tombi, dan Makam Sultan Murhum.

Lia menerangkan penunjang SK Wali Kota Baubau untuk pengembangan desa wisata sudah siap diperuntukan kepada 13 tempat desa wisata. Masing-masing, Desa Wisata Sulaa, Melai, Baadia, Sukanaeyo, Matanaeyo, Palabusa, Kaisabu Baru, Bone-bone, Ngkari-ngkari, Bugi, Karya Baru, Kolese, dan Lipu. “Desa wisata diubah jadi limbo wisata,” akunya.

Bukan hanya itu, pihaknya juga fokus pada pengembangan SDM pengelola destinasi melalui tujuh pelatihan pelayanan kepariwisataan. “Serta pembentukan kelompok sadar wisata atau Pokdarwis di destinasi-destinasi prioritas,” kuncinya.(***)

COVID BUSEL