PUBLIKSATU.CO – Jutaan wisatawan asing datang untuk berlibur ke Bali, dan Indonesia umumnya. Namun, uang yang dibelanjakan (spending money) tidak sebanding saat berwisata ke negara lain.

Bahkan, Ketua Umum Nawacita Pariwisata Indonesia RM Suryo Atmanto mengatakan, uang yang dibelanjakan wisatawan asing selama berlibur ke Indonesia lebih rendah dibanding negara berkembang lainnya.

Menurut RM Suryo Atmanto, pariwisata merupakan fundamental ekonomi yang paling sehat. Karena itu, perlu ada peningkatan kualitas di sektor pariwisata.

Namun, kenyataannya daya beli turis asing masih kurang. Contohnya di Bali, dimana masih ada hotel berbintang yang harga per kamarnya masih di angka ratusan ribu per malam.

“Padahal, di negara berkembang lain, hotel dengan bintang yang sama seperti di sini harganya sudah angka jutaan rupiah,” katanya.

Di sisi lain, di Indonesia wisatawan bisa menikmati keragaman bentuk pariwisata. Mulai dari wisata budaya, alam hingga religi.

Namun kembali ke harga, masih jauh lebih rendah dan anino daya beli masih jauh di bawah negara berkembang lainnya.

“Kita punya banyak potensi. Mulai dari budaya, seni, keberagaman agama dan lainya. Itu bisa kita jadikan potensi. Inilah salah satu tujuan kami di Nawacita Pariwisata Indonesia, yakni memajukan pariwisata,” tambahnya.

Terkait acara Pengukuhan dan Pengesahan DPD Nawacita Pariwisata Indonesia, Ketua Panitia Pelaksana, I Wayan Witama menuturkan, dalam acara tersebut dikukuhkan sembilan DPD dari beberapa daerah di Indonesia.

“Sekarang baru ada 9 DPD. Ke depannya akan ditambah lagi,” katanya. Dilanjutkannya, bahwa visi dan misi Nawacita Pariwisata Indonesia adalah memajukan pariwisata indonesia.

Dimana Nawa artinya sembilan, dan Cita adalah cita cita.”Ini sesuai dengan semangat pak Jokowi memajukan pariwisata Indonesia,” tandas Witama. (radarbali/ps)

COVID BUSEL