ANTARA langit dan bumi. Demikian gambaran geografis antara Tanah Haram dengan sejumlah negara Eropa yang saya kunjungi.

Tanah Haram, Mekah dan Madinah kontur tanahnya berbatu, gurun pasir, dan gersang. Kalau pun ada pepohonan hanya pada daerah tertentu.

GLETSET: Mendirikan salat berjamaah, sebelumnya berwudu menggunakan lelehan air dari salju abadi Gunung Titlis di Swiss. (IST)

Secara umum hamparan gurun pasir yang mendominasi perjalanan. Suhu udara rata-rata di atas 40 derajat Celcius.

Walau demikian, jangan tanyakan dengan ketersediaan air. Dimana-mana kita tidak kesulitan memperoleh air.

Bahkan bisa dikatakan melimpah. Mudah diperoleh dimana saja.

Masjid Nabawi dan Masjidil Haram jangan tanya lagi. Air zamzam, yang dingin atau suhu normal silahkan ambil, gratis.

Bukan hanya itu, beberapa lokasi yang saya kunjungi, secara matematis mestinya menjual air, justru gratis. Seperti ketika berada disalah satu pasar sebelum memasuki bandara di Jeddah, saya melihat ada boks air disatu toko.

Didalamnya terdapat beberapa botol kecil air mineral. Analisis saya, air tersebut dijual. Saya taksir kalau bukan 50 Cen bisa jadi satu Real.

Namun ketika saya tanyakan, air? “Halal.”

Demikian jawaban pemilik toko. Ungkapan tersebut menggambarkan air tersebut boleh diambil secara gratis.

Bukan hanya saya, hampir seluruh rombongan Umrah Backpaker melakukan hal sama. Mengkonsumsi air tersebut. Gratis.

Padahal di antara kami tak ada satu pun yang membeli komiditas di tokonya. Saat mengambil botol air terakhir yang bisa dikonsumsi di boks kardus sepintas saya perhatikan roman wajahnya. Tak ada yang berubah. Biasa saja.

Tak ada mimik marah. Apalagi tersinggung.

Ogah penasaran, saya bertanya langsung ke Mutawif Ustaz Zulkarnain Nasution Lc terkait hal tersebut. Ia katakan hal tersebut sudah tradisi bangsa Arab.

Mereka meyakini, dua hal yang dimudahkan untuk diberikan kepada orang lain, api dan air. Itulah yang membuat mereka ringan tangan memberikan air. Bahkan gratis.

Secara syar’i, saya temukan jawabannya dalam hadis riwayat An-Nasai, Ubadah bin Ash-Shamit bertanya pada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sedekah apakah yang paling afdal? Jawab beliau “Memberi minum air.”

Bagaimana dengan di Eropa? Secara geografis negara yang saya kunjungi memiliki tanah subur.

GURUN: Kawasan tandus di Mekkah mudah memperoleh air. (IST)

Mudah ditanami. Apalagi masuk dalam negara empat musim. Tidak susah tumbuhan hidup. Beda dengan di Arab.

Namun jangan tanya soal air mineral kemasan. Tak ada yang gratis.

Rata-rata harganya dibanderol di atas satu Euro. Setara dengan Rp 16 ribu bila satu Euro Rp 16 ribu.

Itulah Eropa yang sudah hidup dengan budaya kapitalis. Kalau mau yang gratisan, siapkan sendiri botol isi ulang. Isi air di kran umum.(Follow Instagram: @irwansyahamunu)

COVID BUSEL