Guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kenteng II, Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), tak sekadar mengajar. Mereka juga rela melakukan antar jemput murid agar aktivitas belajar mengajar bisa tetap berjalan.

Ridho Hidayat, Jogjakarta

Pagi itu, waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB. Sebanyak 15 murid SD terlihat berdiri di tepi jalan perempatan Dusun Prampelan, Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DIJ. Mereka bersabar menunggu transportasi untuk berangkat ke sekolah.

Tak berselang lama, Kepala SDN Kenteng II Mateus Brotosugondo pun datang. Sang kepala sekolah mengendarai sepeda motor tahun pembuatan 2000-an. Ia Langsung disambut para muridnya. Satu persatu siswa mencium tangan Mateus.

 

Setelah sejenak bertegur sapa, 2-3 anak kemudian dibonceng Mateus. Mereka diantarkan ke sekolah secara bergiliran untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. “Sudah biasa dijemput pak guru, sejak kelas 1. Pulang sekolah juga diantarkan,” kata murid kelas 5 SDN Kenteng II Galih Pramuditya, 11.

Hal senada disampaikan siswa kelas 6 SDn Kenteng II Catur Akhirul Firza, 11. “Kalau penjemputan di sini ada sekitar 15 siswa. Dari kelas 1 sampai 6 ada,” sambungnya.

Jarak antara lokasi penjemputan dengan SDN Kenteng II sekitar 2,5 kilometer. Akses menuju ke sekolah berupa jalan yang dikeraskan dengan cor semen. Selain medannya yang melewati perbukitan, jalan juga sering licin akibat guyuran hujan.

Saat menjemput muridnya, Mateus pernah terjatuh karena licinnya jalan. Beruntung lukanya sekadar lecet. Sementara murid yang dibonceng kondisinya baik-baik saja. “Dua kali pernah jatuh,” ungkapnya.

Menurut Mateus, antar jemput para murid sudah berjalan sejak 8 tahun silam tanpa imbalan apapun. “Karena kegiatan sosial, tidak ada imbalan apa-apa. Sebisa mungkin urip iku urup (hidup itu sebisanya memberi manfaat orang lain, red),” tuturnya.

Selain di Dusun Prampelan, lokasi penjemputan murid lainnya ada di Dusun Cerme, Desa Kenteng. Namun untuk di Dusun Cerme, mereka yang menjemput khusus guru perempuan. Karena medannya yang lebih mudah diakses.

Ada sebanyak 9 guru di SDN Kenteng II yang selalu mengantar jemput murid. Termasuk Mateus sendiri. Tak ada jadwal tetap siapa yang menjemput para murid. “Siapa yang berangkat duluan, dia yang menjemput. Sudah kesadaran sendiri,” tukas Mateus.

SDN Kenteng total memiliki 72 siswa. Ada sekitar 25 siswa yang setiap harinya harus antar jemput. “Kalau murid yang jauh, untuk pulang biasanya diantar sampai rumah,” ucapnya.

(dho/JPC)

COVID BUSEL