PUBLIKSATU, BUTENG – Setelah lama dinantikan masyarakat, akhirnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah (Buteng) resmi beroperasi. SPBU bernomor 76.937.07 itu sebelumnya berstatus agen premium dan minyak solar (APMS) milik pengusaha H La Afa.

Pengoperasian SPBU yang terletak di jalan poros Kecamatan Mawasangka itu diresmikan langsung Bupati Buteng H Samahuddin, ditandai dengan pengguntingan pita dan pengisian bahan bakar solar pada mobil dinas bupati DT 1 Y yang dilakukannya sendiri, Minggu (13/5).

Peresmian SPBU yang diwarnai dengan hujan tersebut, dihadiri Sekab Buteng La Ode Hasimin, Wakil Ketua DPRD Muthalib dan anggota DPRD Kadir Teme, serta sejumlah Kepala OPD, dan para kerabat H La Afa.

“Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, pada hari ini Minggu 13 Mei 2018 saya Bupati Buton Tengah menyatakan SPBU Kompak Kecamatan Mawasangka resmi dibuka dan digunakan untuk kepentingan masyarakat umum,” ucap Samahuddin saat melakukan pengguntingan pita.

Orang nomor satu di Kabupaten Buteng ini berharap, dengan beroperasinya SPBU di Kecamatan Mawasangka ini dapat meningkatkan perputaran dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Buteng, khususnya di Kecamatan Mawasangka.

“Semoga dengan beroperasinya SPBU ini dapat membangun ekonomi masyarakat dan memenuhi kebutuhan BBM seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan setiap tahunnya serta menekan kelangkaan BBM,” harapnya.

Bila kapasitas BBM yang diberikan pihak Pertamina kepada SPBU H La Afa tersebut belum mencukupi kebutuhan masyarakat, sebagai bupati dirinya akan memberikan rekomendasi agar Pertamina menambah lagi kapasitasnya.

“Saya siap memberikan rekomendasi penambahan kuota premium maupun solar kepada Pertamina jika kebutuhan masyarakat belum mencukupi akan BBM di SPBU ini. Nanti kita lihat perkembangannya kalau sudah berjalan satu atau dua bulan kedepan,” pungkasnya.

Pengusaha H La Afa (73) mengaku, SPBU yang dibangun dengan modal sekitar Rp 3 miliar tersebut merupakan pengembangan dari APMS miliknya yang sudah dijalankan sejak tahun 1996 silam. “Kalau dulu APMS ditakar dengan liter untuk melayani konsumen, sekarang Pertamina mewajibkan pakai pompa. Sehingga APMS yang ada harus ditingkatkan statusnya menjadi SPBU,” terangnya.

Sementara ini, kata H La Afa, pihak Pertamina masih memberikan jatah 50 ton untuk jenis premium dan 25 ton jenis solar per bulannya. Namun menurut dia, jatah tersebut masih dianggap kurang.

“Biar dulu beroperasi satu atau dua bulan kedepan, supaya ada bukti dari Pertamina kalau jatah yang diberikan masih kurang. Nanti saya akan minta rekomendasi pak bupati supaya ditambahkan untuk jatah SPBU kami,” tutupnya. (uzi)

COVID BUSEL